Universitas Widya Gama Widya Gama Mahakam University

UWGM serahkan bantuan bagi korban bencana

Wakil Rektor Universias Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda Wahyuni Safitri menyerahkan bantuan berupa uang tunai kepada empat keluarga korban gempa tsunami Palu-Donggala di RT 20, Kelurahan Air Hitam, Samarinda, Jumat (26/10/2018). 

Bantuan para korban gempa dan tsunami Palu-Donggala masih terus mengalir. Termasuk untuk korban yang meninggalkan kota Palu pasca-gempa dan kini tengah mengungsi di Kaltim. Satu di antaranya datang dari civitas akademika Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, Jumat (26/10/2018). 

Dipimpin Wakil Rektor UWGM Bidang Kemahasiswaan Wahyuni Safitri SH MHum, rombongan mahasiswa UWGM itu mendatangi sejumlah korban gempa tsunami di Samarinda. Para korban itu antara lain ditampung di rumah keluarga mereka di Jl Anang Hasyim RT 20, Kelurahan Air Hitam. 

"Kami turut prihatin atas musibah yang terjadi. Tetap tabah ya," kata Wahyuni Safitri

Didampingi Bagian Kemahasiswaan Mukmin SH MHum, Latif (dosen) dan perwakilan BEM UWGM, Wahyuni Safitri menyerahkan langsung bantuan berupa sejumlah uang kepada empat keluarga (12 jiwa) korban. 

Farida, salah seorang korban, menyampaikan terimakasih.

"Kami tak bisa membalas apa-apa. Semoga kebaikan ibu dan bapak-bapak, serta adik-adik mahasiswa ini dicatat dan diganjar dengan pahala berlimpah oleh Allah Swt."

Perwakilan BEM UWGM Samarinda, Wakil Rektor Wahyuni Safitri dan civitas akademika UWGM lainnya berfoto bersama sebagian korban gempa dan tsunami Palu di RT 20, Kelurahan Air Hitam, Samarinda, Jumat (26/10/2018).

Dikatakan, meski sudah lebih tiga minggu sejak gempa besar dan tsunami terjadi, Farida mengaku masih merasakan trauma.  "Selama di Palu kami memang biasa merasakan gempa, tapi tidak pernah yang sebesar ini."

"Hampir semuanya hancur.  Tiga hari pertama itu, Palu benar-benar lumpuh. Tak ada air. Tak ada makanan. Tak ada bensin. Tak ada listrik.  Tak tahu di mana masing-masing anggota keluarga kami. Tak bisa hubungi siapa pun karena jaringan ponsel mati, ," tuturnya mencoba mengenang kembali keadaan di awal kejadian.

Ia mengaku beruntung Allah Swt masih melindunginya. Tempat dia tinggal di Jln Sis Aljufrie bersama bangunan di sekitarnya umumnya masih relatif utuh. Sebagian besar anggota keluarganya juga tinggal di kawasan yang  merupakan komplek pusat pendidikan Al Khairaat Palu.

Tetapi naas bagi ribuan warga lainnya. Banyak bangunan ambruk. Jalanan terbelah. Bahkan ribuan rumah di Perumnas Balaroa dan Petobo amblas ditelan bumi. Saat ini, kalau pun masih ada rumah atau bangunan yang masih berdiri, pondasinya banyak yang sudah bergeser dan strukturnya terbelah sehingga membahayakan jika diitinggali. 

Farida tiba di Samarinda pada tanggal 1 Oktober 2018, tiga hari pasca-gempa. Ia menumpang pesawat hercules setelah mengantre sehari semalamdi Bandara Sis Aljufrie.  Akan halnya adiknya, Fadlun dan dua anak kecilnya, sempat terpisah. Hecules yang ia naiki ternyata menuju Makassar.

 "Saya pikir tak apalah pesawat ini menuju Makassar. Bagi kami yang penting keluar dulu dari Palu, karena saat itu benar-benar menakutkan, gempa susulan masih terus kami rasakan," jelas Fadlun. Empat hari kemudian ia bisa menyusul kakaknya ke Samarinda.

Wahyuni Safitri mengatakan, pihaknya turut sedih melihat bencana gempa dan tsunami yang menelan ribuan nyawa itu. Karena itu ia kemudian mengajak para mahasiswa untuk menggalang dana guna meringankan beban para korban.

"Kami kemarin sempat ke BPBD Samarinda untuk koordinasi penyaluran bantuan. Kami juga mendengar bahwa ada sebagian korban yang tinggal bersama keluarga-keluarga mereka di Samarinda. Maka kami ke sini, sekalian menjadikan media pembelajaran bagi mahasiswa," jelasnya.

Selepas dari RT 20 Kelurahan Air Hitam, rombongan mahasiswa UWGM lantas bergerak menuju Loa Bakung guna memberikan bantuan yang sama.

Terpsah, Humas Tanggap Darurat dan Evakuasi BPBD Kaltim, Nanang seperti dilansir Antara mengatakan para korban gempa yang ada di Samarinda tetap terpantau. Mereka umumnya ditampung di keluarga-keluarga mereka. 

Para pengungsi ini menurutnya membutuhkan makanan dan perlengkapan bayi, keperluan wanita dewasa, pakaian serta vitamin untuk memulihkan kondisi fisik yang mulai melemah. [bin]

Sumber : kaltim.Tribunnews.com

 

Sumber : Koran Kaltim Post